Jemaat Jayapura Mengucapkan

Gereja KIBAID Jemaat Jayapura mengucapkan, Selamat Datang di Blog ini dan Terima Kasih atas Kunjungan Anda, Kiranya Blog ini menjadi berkat bagi Anda



Kamis, 03 Februari 2011

Saksi-Saksi Kebangkitan Kristus

Oleh : Pdt. Theopilus Maupa', S.Th

Kebangkitan Tuhan Yesus disaksikan oleh lebih dari lima ratus orang pada satu waktu (I Kor 15:3-9) dan oleh orang-orang lain juga. Di dalam pengadilan, dua atau tiga orang saksi sudah cukup untuk mengesahkan sesuatu dan kesaksian orang sebanyak itu tidak dapat ditolak.
Suatu kesaksian akan lebih kuat kalau sifat orang memberi kesaksian itu baik. Kalau sifat dan sikap saksi itu jahat tentu kesaksiannya kurang dapat dipercaya. Tak ada orang dapat menyalahkan kehidupan Rasul-Rasul yang menyaksikan kebangkitanNya. Kesucian mereka sudah menarik hati beribu-ribu orang dan merka telah menjadi teladan yang baik bagi semua orang lebih dua ribu tahun. Seorang saksi biasanya diselidiki lebih dahulu, dan kalau memmang bermaksud baik tentu kesaksiannya lebih dapat dipercaya. Ada beberapa murid yang siap mati syahid karena kesaksian mereka tentang kebangkitan Yesus. Mustahil merka menyaksikan dusta bila kesaksian mereka mendatangkan kematian begi mereka.
Kesaksian dari penulis sejarah dunia membuktikan kebangkitan Tuhn Yesus. Ignatius, seorang penulis sejarah dunia yang terkenal, hidup pada waktu Tuhan Yesus berada di dunia dan juga seorang kristen yang mati syahid, berkata demikian: ”Kristus benar-benar mati dan benar-benar bangkit. Aku tahu bahwa sesudah kebangkitanNya, Ia tetap memiliki tubuh dan saya percaya Ia masih tetap begitu”. Dan ketika Yesus datang kepada murid-muridNya, Ia berkata: ”Rabahlah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya”. Tertulian, juga seorang penulis sejarah dunia yang termasyur telah menyaksikan kebenaran kebangkitan Tuhan, serta mengakui bahwa hal itu diketahui juga oleh kaisar Romawi. Kesaksian kedua penulis itu tidak dapat ditolak oleh siapapun juga. Kristus sungguh-sungguh telah bangkit.

Sabtu, 29 Januari 2011

Tahap-Tahap Pertumbuhan Rohani

Oleh: Pdt. Theopilus Maupa', S.Th

I Korintus 13:11, Ibrani 5: 12-6:1
•   Tahap-tahap pertumbuhan rohani ini untuk mengalami Allah secara baru
•   Bukan untuk mengukur kelayakan seseorang
•   Setiap tahap ada keunikan untuk bertumbuh
•   Keragaman pertumbuhan bukan menunjukkan ketidakdewasaan atau ketidakrohanian melainkan menunjukkan kebutuhan yang berbeda bagi setiap orang dalam perjalanan kehidupan rohaninya
•   Banyak gereja tidak terbuka dalam hal doktrin, takut bagi jemaat yang pertumbuhan rohaninya masih kanak-kanak menjadi tersandung.  Padahal itulah kebutuhan jemaat.
•   Gereja harus menyadari apa yang perlu bagi jemaat di setiap tahap pertumbuhan rohaninya

Tahap Pertama: Usia 2-7 tahun
•   Tahap penanaman benih kepercayaan, semangat, harapan dan kasih
•   Apa yang diajarkan diterima begitu saja, sehingga mudah dieksploitasi, dimanipulasi dan diindroktinasi.
•   Seperti usianya, dalam memberikan pengajaran dengan cara ditakut-takuti.

Tahap Kedua: Usia 8-16 tahun
•   Menerima pengajaran iman, moralitas dan sikap secara literal
•   Makna rohani tidak dikenal atau dimengerti
•   Sangat legalistik, perfeksionis dalam mentaati hukum, kaku seperti orang farisi (Matius 9:17)
•   Memahami Allah seperti yang digambarkan dalam mitos, karena sangat literal dalam memahami kitab suci
•   Perlu penanganan yang bijak

Tahap Ketiga: Usia 17-24 tahun
•   Otoritas eksternal: Ada faktor luar yang mengendalikan dirinya seperti kebiasaan, tradisi, dan orang lain atau organisasi
•           Tidak menguji pengajaran tetapi hanya mentaatinya
•   Pengajaran yang diterima dipertahankan dan dibela secara fanatik , tetapi tidak menganalisisnya
•   Simbol dan upacara sama dengan iman kepada Allah
•   Merobek Alkitab sama dengan menghujat dan menghina Allah
•   Tidak ibadah atau tidak ikut pengajaran = tidak taat
•   Tahap ini adalah zona nyaman, seperti ikan dalam air (Yeremia 48:11-12)
•   Mulai berhenti dalam pertumbuhan iman
•   Melakukan apa yang gereja minta
•   Membutuhkan dukungan, persekutuan, keamanan, keyakinan
•   Menyembunyikan pertanyaan-pertanyaan soal iman dan pengajaran
•   Selama ibadah menyenangkan dan membangun, mereka tidak mempertanyakan penggunaan kata-kata dan metode yang asing dalam upacara
•   Perubahan dan pertanyaan bagi mereka adalah penyangkalan iman Kristen dan perlawanan kepada Allah
•   Identitasnya berdasarkan satu aspek pikiran atau satu pandangan teologia.  Yang berbeda adalah jenis Kristen lain
•   Mencari simbol-simbol kehadiran Allah berupa mujisat, karunia, emosi, upacara, kesuksesan, dan menjadi putus asa ketika tidak mendapatkan simbol tersebut.  Karena simbol = Allah

Tahap Keempat: Usia 25-34 tahun
•   Dia bagaikan ikan yang keluar dari air.  Meninggalkan rumah secara fisik dan emosional
•   Perpindahan ini menyakitkan, menakutkan dan tanpa arah
•   Dia menjadi asing dan ancaman bagi keluarga dan teman yang tidak mau berubah
•   Otoritas menjadi internal, dia bukan orang yang sedang memainkan perannya sebagai gembala, bapak, pengusaha, dan lainnya.
•   Dia tidak membiarkan otoritasnya ditentukan orang lain
•   Dia mengecewakan banyak orang , beresiko kegagalan, menentang norma-norma masyarakat
•   Dia mulai memikirkan secara kritis sistem nilai dan makna.  Tidak menerima pengajaran begitu saja
•   Radikal dalam mengkritik yaitu demitologisasi dan deobjektivikasi
•   Dia menjadi nihilistik dan tidak percaya segala sesuatu
•   Setiap orang dan segala sesuatu dikritik, dipertanyakan dan dianggap salah, contoh: pemimpin menjaga jarak adalah sombong, rendah hati adalah tidak punya harga diri, biasa-biasa saja adalah tidak punya pendirian.
•   Makna simbol terpisah dari simbol itu sendiri, contohnya: tidak harus orang yang mengenakan jubah pendeta atau makan roti perjamuan adalah orang suci dan rohani.
•   Orang seperti ini perlu dirangkul, karena sedang dalam pencarian lebih dalam lagi mengalami Allah

Tahap Kelima: Usia 35-40 tahun
•   Mulai sadar kehidupan adalah kompleks
•   Sadar bahwa pengetahuan manusia terbatas
•   Melihat segala sesuatu dari berbagai perspektif
•   Melihat banyak kebenaran di luar sana
•   Sadar bahwa semua jawaban tidak dapat ditemukan
•   Ada banyak misteri dalam kehidupan ini
•   Simbol, cerita dan gambar tidak sekedar diterima secara literal, tetapi ditafsir, dikaji dan dibaharui
•   Demitologisasi ditempatkan pada tempat yang sepatutnya
•   Terbuka pada hal-hal yang baru
•   Menjalin hubungan secara baru, menerima semua orang dan golongan secara empati
•   Pluralistik, tidak kaku (Matius 9:17)
•   Tetap memiliki/berpegang pada keyakinannya

Tahap Keenam: Usia 41 tahun keatas
•   Semua orang dilihat sebagai wajah Tuhan
•   Dia begitu mengasihi dunia ini, tetapi juga siap kehilangan semua yang ia miliki dalam dunia ini
•   Banyak orang ingin sepertinya tetapi tidak dapat mengerjakan
•   Banyak orang pun tidak suka dengan orang ini, khususnya keluarganya 

Minggu, 28 Februari 2010

Manusia di Tamana Eden (Kej. 2:8-25)

Renungan Mingguan Jemaat
oleh : Pdt. Theopilus Maupa', S.Th

Bacalah dan renungkanlah Kej. 2:8-25 lalu jawablah pertanyaan penuntun untuk menemukan makna dalam nas tersebut
1. Ayat 8-9,
 a. Siapakah yang membuat taman dan menumbuhkan berbagai pohon di taman itu?
 b. Dimanakah Tuhan membuat taman itu untuk ditempati manusia?
 c. Untuk apakah pohon-pohon itu ditumbuhkan dalam taman?
 d. Apakah makna yang Anda petik dari kalimat “Tuhan membuat taman bagi manusia lalu menempatkannya disitu” dan “Tuhan menumbuhkan berbagai pohon untuk dimakan buahnya”
2. Ayat 10,
 a. Apakah artinya “ada suatu sungai mengalir dari Eden, lalu terbagi menjadi empat cabang”
 b. Untuk apakah sungai itu mengalir di taman itu?
 c. Sebutkan empat cabang sungai itu
 d. Sebutkan kekayaan yang ada di sungai Pison
 e. Apakah maknanya bagi Anda tentang kekayaan itu
3. Ayat 15-17,
 a. Untuk apakah manusia ditempatkan di Taman Eden?
 b. Apakah perintah Tuhan kepada manusia tentang pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat?
 c. Apakah akibatnya ketika melanggar perintah itu?
4. Ayat 19-20,
 a. Dari apakah Tuhan membentuk segala binatang hutan dan segala burung di udara?
 b. Siapakah yang diberi hak oleh Tuhan untuk memberi nama kepada binatang dan burung-burung
5. Ayat 18, 21-25,
 a. Apakah pandangan Tuhan, kalau manusia itu seorang diri saja?
 b. Apakah yang dibuat oleh Tuhan setelah memandang manusia seorang diri?
 c. Jelaskan maksud Tuhan mengambil salah satu rusuk, lalu dibangun-Nyalah seorang perempuan.
 d. Apakah pendapat manusia itu, setelah perempuan itu dibawa kepadanya
 e. Jelaskan maksud “laki-laki meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya.
 f. Apakah artinya keduanya menjadi satu daging.

Sabtu, 20 Februari 2010

Penciptaan Alam Semesta (Kej. 1:1 - 2:7)

Renungan Mingguan Jemaat
oleh : Pdt. Teopilus Maupa', S.Th

Bacalah Nas ini dengan seksama dan renungkanlah  serta jawablah pertnyaan penuntun yang tersedia
1.  Apakah yang diciptakan pada awal atau pada mula sekali? (Ay. 1)
2.  Apakah maksud bumi belum berbentuk dan kosong, gelap gulita meliputi samudera raya   dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air?   (Ay. 2)
3. Apakah yang diciptakan Tuhan pada hari pertama? (Ay. 3-5)
4. Apakah yang diciptakan Tuhan pada hari kedua? (Ay. 6-8)
5. Sebutkan yang diciptakan Tuhan pada hari ketiga? (Ay. 9-13)
6. Sebutkan apa yang diciptakan Tuhan pada hari keempat? (Ay. 14-19)
7. Sebutkan apa yang diciptakan Tuhan pada hari kelima? (Ay. 20-23)
8. Sebutkan apa yang diciptakan Tuhan pada hari keenam? (Ay. 24-31)
9 Apakah maksud manusia dijadikan menurut gambar & rupa Tuhan? (Ay. 26)
10. Asetelah Adam dan Hawa diciptakan, apakah yang Tuhan buat bagi mereka? Dan sebutkan perintah Tuhan bagi manusia sebagai tanggungjawabnya? (Ay. 28)
11. Mengapa hari ketujuh disebut “Hari Perhentia” (2:1-3)
12. Bagaimana prosesnya sehingga manusia disebut “Makhluk Hidup” (2:7)

Rabu, 09 September 2009

MENGATASI KEKUATIRAN

Oleh: Pdt. Theopilus Maupa’

Kuatir adalah istilah lain dari melihat krisis dalam dimensi negative. Apa itu krisis?  Krisis adalah ketika kesulitan terakumulasi menjadi satu sehingga mengakibatkan kondisi yang berbahaya  bagi diri dan hidup kita. Krisis dalam dimensi yang negative adalah krisis yang dilihat semata dari kejadiannya, sedangkan daridimensi positif adalah melihat krisis dari segi manfaatnya. Ingat setiap kejadian  pasti ada manfaatnya atau hikmah dibalik semuanya.

Beberapa cara mengatasi kekuatiran adalah sebagai berikut:
1.        Melarang diri tidak kuatir (Mat 6:25,34; Luk 12:22; Fil 4:6)
       Kekuatiran kadang muncul dari diri sendiri, sehingga cara untuk mengatasinya adalah melarang diri tidak kuatir.
2.        Menyadari ”kuatir adalah kebiasaan yang buruk” (Luk 10:41;Amzal 12:25)
       Kekuatiran adalah kebiasaan yang ssangat buruk, karena itu dengan pertolongan Tuhan mari kita hilangkan kebiasaan itu.
3.        Menyerahkan kekuatiran kepada Tuhan (Maz 55:23; Fil 4:6; I Pet 5:7)
       Setiap bangun tidur, ucapkan dengan suara kepada Tuhan melalui doa tentang hal-hal yang kita kuatirkan. Karena doa adalah bukti iman seseorang kepada ttangan kuasa yang tak kelihatan.
4.        Menyadari hidup kita lebih dari makluk yang lain (Mat 6:25-26)
       Manusia adalah makluk ciptaan Tuhan yang sangat mulia, diciptakan segambar dan serupa dengan Tuhan, karena itu percayalah bahwa Tuhan tidak akan membiarkan kita.
5.        Baca dan tandai  ayat-ayat Firman Tuhan yang berisi janji atas hidup kita.
       Jadikan Firman Tuhan sebagai rhema dalam kehidupan kita.
6.        Jangan berpartisipasi dalam pembicaraan yang negatif.
       Kita harusnya membina persahabatan dengan orang-orang yang penuh pengharapan.  Bantulah orang-orang yang sedang dilanda kekutiatiran dan pesimismme. Menularkan pikiran poisitif kepada orang lain, supaya meningkatakan semangat juga.

Jumat, 21 Agustus 2009

Berubalah oleh Pembaruan Budimu (Roma 12:1-2)

Oleh : Pdt. Theopilus Maupa', S.Th
I      Pendahuluan
       Tema ini merupakan tema nasional PKM Gereja KIBAID dalam rangka pertemuan nasional dan menyambut HUT PKM Gereja KIBAID ke 39 tahun 2009.  tema ini tenu relevan dengan situasi PKM Gereja KIBAID, bahwa ada banyak pemuda yang belum aktif dalam persekutuan dan pelayanan serta kegiatan gerejawi karena mungkin pemuda itu belum berubah dan belum dibaharui, sehingga tepatlah jika tema ini, kita angkat untuk kita diskusikan.

II.    Pengertian.
       1.   Berubahlah
              Berubah dari kata dasar ubah yang artinya menjadi lain dari semula, bertukar menjadi sesuatu yang lain dan berganti.
       2.    Pembaruan
              Pembaruan artinya proses, perbuatan, dan cara membarui.
       3.    Budi
              a. Alat batin yang merupakan paduan akal dan perasaan untuk menimbang baik dan buruk.
              b. Tabiat, akhlak, watak.
              c. Perbuatan baik, kebaikan
              d. Daya upaya, ikhtiar.
              e. Akal.
     
            III.  Kata Kunci Tema : “Berubahlah”
      1.    Berubah artinya menjadi lain dari semula, bertukar menjadi sesuatu yang lain,   bergantipikiran, haluan arah dan ingatan.
       2.    Berubah dapat terjadi secara negatif dan positif:
              a. Negatif: Dari yang baik menjadi buruk
              b. Positif: Dari yang buruk menjadi baik
       3.    Tuntutan : Berubah positif

            IV.  Beberapa Cara Berubah
1.    Bersedia mendengar dan menerima nasihat.
2.    Mempersembahkan tubuh sebgai persembahan yang hidup, kudus dan yang berkenan kepada Allah.
3.    Tidak serupa dengan dunia
4.    Pembaruan budi atau akal/pikiran.
5.    Selektif membedakan :
  Ø Kehendak Allah dan kehendak manusia
  Ø Apa yang baik dan apa yang buruk
  Ø Apa yang berkenan kepada Allah dan apa yang tidak berkenan kepada Allah.
  Ø Apa yang sempeurna dan apa yang tidak sempurna.
V.   Refleksi Untuk Berubah
       1.    Tulislah dengan jujur apa yang menjadi keburukan, kelemahan dan kekurangan anda.
            2.    Buatlah komitmen untuk berubah.
       3.    Berdoalah untuk berubah
            4.    Nyatakanlah perubahan itu kepada orang lain.

Bahan Diskusi PKM Gereja KIBAID Jemaat Jayapura
Pada HUT PKM Gereja KIBAID Ke 39 Tahun 2009
Di Kampung Wisata Tablanusu, Jayapura Papua
tanggal 20-21 Ags 2009

Rabu, 05 Agustus 2009

7 KEBIASAAN MENINGKATKAN KUALITAS KEKRISTENAN

Oleh : Pdt. Teopilus Maupa', S.Th

Nas : 1 Petrus 1:5-8
1. Kebaikan
Kebaikan adalah apa yang dilakukan oleh kebaikan itu sendiri. Artinya, kebaikan bukanlah perasaan melainkan sebuah tindakan.  Berbuat baika adalah satu nesehat yang sudah sering dikatakan. Namun menjadikan perbuatan baik sebagai suatu kebiasaan ternyata tidakmudah, meski juga tidak mustahil untuk dilakukan.  Memiliki perbuatan baik adalah saat kita selalu mencari seseorang yang membutuhkan pertolongan atau tindakan baik  yang bisa kita lakukan.

2. Pengetahuan
Bagaimana cara memperoleh  pengetahuan? Baca Yak 1:5.  Pengetahuan didapatkan orang kristen melalui kebiasaan membaca Firman Tuhan (Maz 119:130).  Kita bisa memiliki banyak pengetahuan dalam berbagai bidang, namun ada pengetahuan penting yaitu pengetahuan Firman Allah.  Selidikilah Alkitab untuk mengetahui apa ya ng Allah ingun kita lakukan dalam hidip kita.

3. Pengendalian Diri
Sebagai manusia yang hidup dalam dunia, secara alami akan selalu dibujuk oleh keniginan duniawi.  Namun harus diingat bahwa Tuhan Yesus telah datang untuk membebaskan kita dari belenggu keinginan tersebut yaitu dosa, yang enhalangi hubungan kita dengan Tuhan.  Pengendalian diri haruslah kita meliki untuk dapat menjadi orang kristen yang berkualitas.  Yesus berkata bahwa kita bukan berasal dari dunia (Yoh 15:19), maka kita akan berani berkata ”tidak” pada tawaran yang diajukan oleh dunia.

4. Ketekunan
Ketekunan adalah kebiasaan yang harus dimiliki orang percaya yang ingin terus bertumbuh.  Saat kita jatuh dalam dosa, kita harus menggunakan pengalamani itu sebagai bahan pembelajaran  pembelajaran, disinilah dibutuhkan ketekunan. Ktekukan akan membuat kita untuk mencoba ddan mencoba lagi, untuk memperolah hasil yang baik yakni kekudusan hidup yang sesuai denganajaran Kristus.  Roma 5:4: Ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dalam hidup, banyak ujian yang kita hadapai, dan kunci menghadapai semuanya adalah ketekunan.

5. Kesalehan.
Kesalehan, dalam bahasa aslinya berarti orang yang memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan. Kesalehan yang dimiliki dengan takut akan Allah adalah sandaran bagi kita (Ayub 4:6). Kesalehan bukan hanya tercermin dari sikap kita terhadap Allah namun terlebih adalah bagaimana sikap kita terhadap sesama.

6. Kasih Persaudaraan (KASPER).
Dalam dunia yang manusianya serba individualis dan salin memangsa sesamanya, kasih persaudaraan adalah suatu hal yang harus menjadi kebiasaan bagi anak Tuhan. Ciri-ciri persahatan ddengan ksih persaudaraan yang hrus ditunjukkan oleh orang kristen adalah: menaruh kasih setiap waktu dan menjadi saudara dalam kesukaran (Amsal 17:17), memukul dengan maksud baik (Amsal 27:6). Teladan sahabat sejati adalah Yesus Kristus.

7. Kasih Pada Semua Orang.
Salah satu karakteristik orang kristen adalah kasih, sebagaimana yang dikenal berabad-abad.  Kasih adalah puncak cara kita mengekspresikan kekudusan yang kita miliki.  Kasih yang dimaksud dapat dibaca  dalam I Kor 13:4-7.